Pages

Minggu, 31 Mei 2015

Teach with LOVE

Don't handicap your children by making their lives easy. ~Robert A. Heinlein


Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik dan ingin membahagiakan anak-anaknya. Beberapa orang tua akan melakukan dan memberikan segalanya demi membahagiakan anak-anak mereka, namun ternyata tanpa disadari hal ini tidak terlalu baik dalam proses mendidik anak. Sebagian orang tua bahkan berlomba-lomba mengambil hati anak-anak dengan cara menuruti apapun yang mereka inginkan bahkan sampai menguras dompet mereka agar sang anak merasa senang dan berharap anak akan patuh dengan begitu.

Bagi saya dan suami cara tersebut diatas tidaklah salah, setiap orang tua punya cara sendiri-sendiri dalam membesarkan dan mendidik anak-anak mereka. Tetapi yang akan saya bahas disini adalah cara saya mendidik Ayasha ( sampai saat ini ). :

1. Kenali dulu sifat anak.
Sebelum saya kenali sifat anak saya ( saat hamil ) memang sudah memikirkan bagaimana cara saya mendidik anak saya nantinya, namun ( saat anak sudah lahir ) untuk mencapai goal tersebut saya harus mengenali dulu sifat anak saya.
2. Cari metode yang paling pas untuk anak.
Setelah mengenal sifat anak, kita sebagai orang tua harus mencari metode yang paling pas dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita.

3. Jangan turuti semua keinginan anak.
Bagi saya dan suami, sangat penting mengenalkan batasan-batasan terhadap anak mana hal yang boleh dan hal yang belum saatnya. Bukan berarti tidak boleh namun belum boleh karena sang anak harus sadar bahwa segala sesuatu butuh proses ( agar terbiasa untuk melalui proses dan sadar segala sesuatu yang instan itu belum tentu baik ). kenalkan juga mana yang baik, mana yang tidak baik beserta sebab akibatnya agar anak terbiasa berfikir dahulu sebelum bertindak.

4. Ajak anak melakukan hal-hal sehari-hari agar terbiasa mandiri.
Mengapa saya mengajarkan Ayasha mandiri ? bukan berarti saya tidak bisa melakukannya untuk Ayasha namun sejak dini saya harus mempersiapkan Ayasha agar terbiasa mandiri agar suatu saat nanti apa yang saya ajarkan menjadi suatu kebiasaan dan bukanlah beban untuknya.

5. Puji saat anak pintar dan jangan hujat saat anak melakukan kesalahan.
Selalu puji anak atas segala sesuatu kebaikan atau kepintaran karena dengan begitu anak akan senang melakukannya lagi. Jangan hujat anak atau tertawa saat anak melakukan kesalahan, jika kita sebagai orang tua menghujat maka anak akan belajar menghujat dan jika kita tertawa saat anak melakukan kesalahan maka anak akan menganggap hal itu lucu dan malah mengulanginya lagi. Hal ini sangat penting saat mendidik anak.

6. Jadikan pasangan dan keluarga sebagai TIM.
Jika suami dan istri beserta keluarga bergerak sebagai TIM maka fokusnya akan kepada bagaimana cara terbaik untuk mendidik anak sesuai dengan keinginan dan metode yang dipakai oleh orang tuanya dan bukan fokus kepada kompetisi memenangkan hati sang anak ( dengan begitu anak tidak akan bingung ).

7. Ajak anak bermain dan belajar bersama.
Kebanyakan orang tua menyuruh anaknya untuk bermain dan belajar sendiri namun mereka lupa bahwa yang dibutuhkan anak adalah perhatian dari Orang tua. Maka ikut terlibat dalam proses bermain dan belajar anak sangatlah penting bagi perkembangan sang anak.

8. Jangan menumbuhkan rasa takut kepada anak.
Banyak orang tua mengambil jalan pintas agar anak tidak rewel atau nangis dengan cara menakut-nakuti hal yang menurut saya tidak perlu ditakuti oleh anak. Cara yang lebih bijak mungkin dengan cara yang positif ajak anak melihat bunga atau mengajak anak untuk bernyanyi atau tumbuhkan percaya dirinya. Bagi saya dan suami itu lebih baik dibanding menakut-nakuti yang akhirnya bisa membuat anak phobia.

9. Ajari anak untuk sopan.
Saya dan suami selalu mengajari Ayasha untuk mengucapkan Terima Kasih, Maaf, Permisi dan Tolong sejak dini. Gunanya agar Ayasha tumbuh menjadi anak yang santun terhadap orang lain ( tua maupun muda ).

10. Jangan ajari anak kekerasan.
Memang di dunia tidak selalu indah yang kita dapatkan, namun saya mengajari Ayasha untuk tidak mengatasi masalah dengan kekerasan apapun bentuknya. Walau dipukul anak lain, saya tidak pernah mengajari Ayasha untuk memukul kembali. Saya hanya mengatakan bahwa memukul itu tidak baik dan sebaiknya Ayasha tidak menirukan perbuatan tersebut.


Kalau dijabarkan sebenarnya akan lebih banyak lagi namun saat ini menurut saya 10 poin ini yang biasa saya lakukan kepada Ayasha. Saya sangat menghargai perbedaan dalam membesarkan dan mendidik anak karena bagi saya semua orang tua mau yang terbaik untuk anak-anaknya dan bagi saya setiap detik adalah masa pembelajaran juga untuk orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

2 komentar:

  1. Saya belum menikah dan belum punya anak, tapi saya suka memperhatikan cara orang tua disekitar saya mendidik anak2nya... memang pola asuh sangat menentukan prilaku anak2 dikemudian hari.. postingan yg sangat bermanfaat bisa buat referensi saya kelak kl udah punya anak :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mbak, terima kasih ya atas perhatiannya.. sayapun dulu seperti mbak.. saat blm menikah dan blm pny anak suka cari referensi dan membayangkan spt apa pola didik anak saya kelak.. mudah"an sharingnya bermanfaat yaa.. saya senang bs ikut berbagi walau sedikit.. :)

      Hapus

 
Images by Freepik